
Dari jalanan hingga sepiring nasi di rumah, semuanya ada peran dan perjuangan panjang dari para pejuang nafkah yang sering luput terlihat. Mereka melangkah sejak pagi, menahan lelah dan lapar, demi memastikan napasnya bisa terus berhembus. Bahkan di usia yang tak lagi muda, sebagian dari mereka masih harus bertahan dengan segala keterbatasan.

Abah Anang dan Abah Acan adalah gambaran keteguhan di usia senja. Saat tubuh tak lagi sekuat dulu dan langkah kian melambat, mereka tetap bekerja demi menyambung hidup. Hari demi hari dijalani dengan sederhana, tanpa banyak keluhan.

Suatu hari, Abah Acan ditanya satu hal sederhana:
“Abah sudah makan belum?”
“Belum, dari pagi.” Beliau tersenyum tipis dan menggeleng pelan.
“Mau makan dari mana, Bah?”
“Uang ada… tapi nggak cukup buat belinya.” jawab Abah Acan dengan jujur.

Di tempat lain, dagangan Abah Anang masih belum laku. Dalam kondisi lapar dan tak punya pilihan lain, beliau memberanikan diri mendatangi tukang nasi, menukar barang dagangannya agar diperbolehkan makan. Bukan karena ingin dikasihani, melainkan karena hidup harus terus berjalan.
Kisah Abah Anang dan Abah Acan mengingatkan kita bahwa di balik senyapnya usia senja, ada perjuangan sunyi yang tetap hadir. Mereka bertahan dengan cara paling jujur dan penuh martabat. Tapi dengan tubuh yang renta, mereka tidak boleh berjuang sendirian.

Mari hadir dan ringankan beban Abah Acan dan Abah Anang. Bantuan yang terkumpul akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan harian mereka, agar di usia senja, mereka bisa hidup dengan lebih layak dan tenang.
Pastikan mereka bisa hidup layak dengan menyalurkan bantuan terbaik melalui:
Terima kasih sudah menunjukkan kepedulian kepada sesama, dan memastikan saudara-saudara kita bisa bertahan hidup dengan layak.
![]()
Belum ada Fundraiser