

Mengapa bantuan hanya terbatas dan terfokus pada manusia saja? Sementara para anabul di luar sana tak bisa meminta pertolongan dan dibiarkan tanpa bantuan?
Bencana banjir dan longsor di Sumatra tak hanya membawa duka bagi manusia, tetapi juga bagi makhluk kecil yang tak berdaya.
Banyak anabul terjebak di atap rumah, di antara puing-puing, bahkan hanyut terbawa arus. Sebagian berhasil selamat, namun terpisah dari majikannya. Kini mereka sendirian, menahan lapar, sakit, dan ketakutan.
Anabul yang berhasil ditolong warga dan relawan ditemukan dalam kondisi menggigil, dengan luka di kaki, leher, dan mata akibat terseret arus atau tertusuk benda tajam. Sementara itu, masih banyak lainnya yang terlantar di jalanan, terluka dan kelaparan.
Di tengah keterbatasan, warga terdampak bencana pun masih kesulitan memenuhi kebutuhan makanan. Tak ada sisa, tak ada yang bisa dibagikan untuk anabul-anabul ini.
Hewan ternak terdampak hampir 780 ribu ekor akibat banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat (sapi, kambing/domba, unggas, babi) menurut data resmi Kementerian Pertanian per 31 Desember 2025.

Tak ada yang lebih menyayat hati daripada melihat makhluk Tuhan menderita tanpa mampu meminta pertolongan.
Sahabat, mari bersama menjaga dan membantu anabul korban bencana agar tetap hidup dan bisa pulih kembali!
Disclaimer: Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan anabul terdampak bencana di Sumatra, serta mendukung implementasi program anabul lainnya di bawah naungan Yayasan Global Sedekah Movement.
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik