
Kepala Adik Rian Terus Membesar. Tapi Ayahnya Hanya Bisa Membawa Pulang Rp50.000 Sehari
Di usia 21 bulan, anak-anak lain sudah berlarian, memanggil “ayah”, dan tertawa lepas.
Rian belum bisa.

Sejak usia 1 tahun, Rian didiagnosis congenital hydrocephalus: cairan menumpuk di dalam otaknya, menekan, dan membuat kepalanya terus membesar. Tanpa penanganan yang tepat, tekanan itu bisa merenggut kemampuan bicara, geraknya, bahkan masa depannya. Kini ia tertinggal: belum lancar bicara, belum bisa berjalan.

Bukan karena ia malas berusaha. Tapi karena tubuh kecilnya sedang berperang.
Dan di garis depan perang itu, ada seorang ayah.

Setiap hari ia berkeliling menjajakan roti dari satu jalan ke jalan lain. Kalau dagangan ramai, ia pulang membawa sekitar Rp50.000. Kalau sepi? Kadang tak cukup untuk makan sekeluarga, apalagi untuk biaya kontrol dan terapi Rian yang tidak pernah berhenti.

Maka ia melakukan hal yang paling berat bagi seorang ayah: mengetuk pintu tetangga dan saudara untuk meminjam uang. Ia tidak malu. Baginya, harga diri bisa dikorbankan, asal Rian punya harapan.
Tapi pinjaman ada batasnya. Sementara penyakit Rian tidak mengenal kata menunggu.
Bayangkan kalau itu anak kita?
Bayangkan memeluknya malam hari, sambil menghitung uang yang tak akan pernah cukup.
Kita tidak bisa mengangkat sakit Rian. Tapi kita bisa mengangkat sebagian beban ayahnya. Berapa pun yang kita punya, bagi Rian dan Ayah, itu bisa jadi satu kali terapi, satu kali kontrol, satu langkah lebih dekat untuk bisa berjalan.
Rian berhak belajar bicara. Rian berhak belajar melangkah. Rian berhak punya masa depan.
Jangan biarkan ayahnya berjuang sendirian. Bantu Rian hari ini, sebelum waktu mengambil kesempatannya.
Klik tombol "DONASI SEKARANG" di campaign ini dan kirimkan doa serta bantuan terbaikmu. Bantu Nadia sembuh, dan bantu ia tahu bahwa ia tidak sendirian.
![]()
Belum ada Fundraiser