
Gerobaknya Dijauhi Anak-Anak: Jangan Ikut Menjauh, Bantu Pak Budi Menghidupi Keluarganya!
“Kadang Anak-Anak Takut Beli Jajanan Saya...”
Kalimat itu keluar dari mulut Pak Budiyanto (48) sambil tersenyum. Tapi senyum itu tidak sampai ke matanya.

Setiap hari, ia mendorong gerobak jajanan keliling dari satu tempat ke tempat lain. Ada anak-anak yang sudah berlari mendekat, uang jajan sudah di genggaman. Lalu mereka melihat wajah dan tubuh Pak Budiyanto. Langkah mereka melambat. Mereka berhenti, lalu pergi.
Pak Budiyanto sudah terbiasa. Tapi terbiasa bukan berarti tidak sakit.
Sejak lahir, tubuhnya kecil dengan tulang leher yang pendek. Berjalan jauh melelahkan, apalagi sambil mendorong gerobak. Meski begitu, ia tetap melangkah. Karena ia seorang ayah, dan ayah tidak boleh berhenti.

Dari uang receh hasil berjualan yang pas-pasan, ia menyambung hidup keluarganya dan membayar sekolah anaknya. Baginya, sekolah anak adalah satu-satunya jalan agar anaknya tidak perlu mendorong gerobak seperti dirinya.

Istrinya pun berjuang dengan keterbatasan. Kaki kanannya bengkok dan lebih pendek, sehingga ia sulit berjalan jauh dan tidak bisa ikut mencari nafkah. Maka seluruh beban keluarga bertumpu pada satu gerobak kecil itu.
Dan beban itu belum selesai.
Di rumah, kedua orang tua Pak Budiyanto terbaring sakit stroke. Mereka seharusnya rutin kontrol dan terapi. Tapi uang dari gerobak habis untuk makan dan sekolah. Maka kontrol ditunda, terapi dilewatkan, dan obat sering menunggu rezeki berikutnya.
Bayangkan menjadi seorang anak yang melihat orang tuanya sakit, tahu mereka butuh pengobatan, tapi tidak mampu membawanya ke dokter.
Itulah yang dirasakan Pak Budiyanto setiap hari.
Namun di tengah semua itu, ia tidak pernah mengeluh. Ia dan istrinya hanya punya satu doa sederhana: bisa terus makan, dan melihat anaknya tetap sekolah.
Hari ini, anak-anak mungkin menjauh dari gerobaknya. Tapi kita bisa mendekat.
Teman baik, jangan biarkan satu gerobak kecil ini menanggung semuanya sendirian
Mungkin bagi kita nominalnya kecil. Tapi bagi Pak Budiyanto, itu bisa berarti satu bulan sekolah anaknya, satu kali kontrol untuk orang tuanya, atau alasan untuk terus melangkah esok pagi.
Ulurkan tangan Anda hari ini. Karena di balik gerobak kecil itu, ada satu keluarga yang sedang bertahan dengan sekuat tenaga.
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik