
Pagi ini, Mbah Trigil belum makan apa pun.
Di usia 81 tahun, sarapannya hanya segelas teh hangat. Itu pun kalau ada. Selebihnya, ia menunggu. Menunggu tetangga yang kebetulan lewat, yang kebetulan ingat, yang kebetulan punya makanan lebih untuk dibagi. Kalau tidak ada yang datang, perutnya dibiarkan kosong sampai esok.
Mbah Trigil tinggal sebatang kara di rumah peninggalan orang tuanya. Atap sengnya bocor, dindingnya kayu lapuk yang sudah bolong, lantainya masih tanah. Rumah itu bahkan harus ia bagi dengan kucing dan ayam. Saat hujan turun, air masuk. Saat malam tiba, dingin menembus dinding yang tak lagi utuh. Tubuh rentanya harus bertahan di sana, sendirian.
Sudah 20 tahun Mbah Trigil tidak bisa bekerja karena kondisi fisiknya. Kini berjalan pun ia nyaris tak mampu. Satu-satunya penopangnya hanyalah sebatang tongkat bambu.
Dulu ia tidak sendirian.
Suaminya berpulang sekitar 30 tahun lalu. Dua tahun terakhir, ia hanya berdua dengan kakaknya. Lalu kakaknya pun pergi untuk selamanya. Sejak itu, rumah reyot itu terasa jauh lebih sunyi.
Mbah Trigil punya seorang anak yang merantau ke Jakarta. Tapi anak itu tak pernah pulang untuk merawatnya. Ia mengaku merasa malu karena ibunya dianggap seperti pengemis.
Bayangkan menjadi seorang ibu yang pernah mengandung, melahirkan, dan membesarkan anaknya, lalu di penghujung usia harus menanggung kenyataan itu.
Mbah Trigil sering menangis.
Bukan karena lapar atau dingin, tetapi karena merasa tidak ada lagi yang peduli.
Yang ia butuhkan sebenarnya sederhana:
Bagi kita, ini mungkin nilai sekali makan di luar. Bagi Mbah Trigil, ini bisa berarti ia makan hari ini, tidur nyenyak malam ini, dan merasa masih ada orang baik di dunia.
Kita tidak tahu berapa lama lagi waktu yang ia punya. Yang kita tahu, setiap hari yang berlalu adalah hari di mana ia mungkin kembali menahan lapar, menahan dingin, dan menahan sepi.
![]()
Belum ada Fundraiser