Di usia 70 tahun, Abah Amun masih harus bekerja hanya untuk bisa makan hari ini.

Setiap pagi, ia berjualan kopi seharga Rp5.000 per gelas dengan harapan ada yang membeli, meski sering kali dagangannya tak sampai 10 gelas per hari sehingga penghasilannya bahkan belum cukup untuk memenuhi kebutuhan makan yang layak.

Ada hari di mana Abah hanya makan dua kali, ada juga hari di mana ia menahan lapar dan hanya minum air agar perut terasa terisi. Ia pernah makan nasi dengan garam, dan lebih dari sekali berpuasa bukan karena ibadah, melainkan karena tidak ada yang bisa dimakan. Di tengah keterbatasannya, Abah masih berusaha membantu cucunya dengan menyisihkan uang seadanya untuk bekal sekolah, meski hidupnya sendiri serba kekurangan.


Abah tinggal sendiri di rumah sederhana peninggalan orang tuanya, setelah berpisah dengan istrinya dan anaknya pun hidup pas-pasan hingga tak mampu membantu. Untuk berjualan, ia hanya memiliki modal Rp50.000—uang terakhirnya, dengan termos dan tas dagangan pinjaman dari tetangga. Sebelumnya, Abah sudah mencoba berbagai usaha, dari menjual kerupuk, telur puyuh titipan hingga balon, namun pernah mengalami kerugian besar saat dagangan telur puyuh habis terbakar, membuat hidupnya semakin terpuruk.
Kondisi rumahnya pun jauh dari layak. Empat bulan lalu lantainya masih tanah dan sering kebanjiran saat hujan, kini hanya diperbaiki seadanya. Abah hidup tanpa listrik karena tak mampu membeli token, tidur dengan perlengkapan seadanya, dan untuk mandi ia harus pergi ke masjid dengan iuran bulanan.
Kesehatannya terus menurun. Penglihatannya mulai buram, ia menderita penyakit kulit selama bertahun-tahun, bahkan pernah jatuh karena pusing dan lapar hingga mengalami kecelakaan tertabrak mobil sampai tak sadarkan diri. Meski disarankan operasi, Abah menolak karena tidak ingin menyusahkan orang lain.
Dalam kondisi sesulit ini, Abah tetap memilih untuk tidak berhutang setelah pernah direndahkan saat mencoba meminjam. Ia lebih memilih menahan lapar daripada menahan malu. Hari ini, Abah benar-benar bertahan di antara dua pilihan: Terus berjualan dengan penghasilan yang tak pasti atau kembali menahan lapar.
Mari bantu Abah Amun hari ini, karena tidak seharusnya di usia senja ia harus berjuang sekeras ini hanya untuk bisa makan. Dengan klik DONASI SEKARANG, Abah bisa hidup lebih sejahtera di hari esok!
Ingat bahwa berpapun nominal yang diberikan, bantuan tersebut akan menjadi gerbang untuk kehidupan yang layak untuk Abah Amun di usia senjanya.