

Di usianya yang sudah 81 tahun, Abah Anang masih harus berkeliling menjajakan buah untuk mencari nafkah. Kakinya yang renta sudah tak sekuat dulu, tapi ia tetap memaksakan diri berjalan jauh. Bukan karena ingin, tapi karena harus.

Hari itu, Abah mencoba menukar buah dagangannya dengan sepiring nasi di warung. Tapi permintaannya ditolak. Dengan hati sedih dan perut kosong, ia melanjutkan langkahnya yang semakin berat.
Jualan buah di zaman sekarang bukan perkara mudah. Tak jarang, buah yang dibawanya tak laku hingga membusuk. Hari-hari berlalu dengan perut kosong dan hanya berteman nasi garam.

Namun, perjuangan Abah tidak berhenti di situ. Sesampainya di rumah, ia masih harus menghadapi kenyataan pahit.
Istrinya lumpuh total. Sejak sakit, istrinya mudah marah, apalagi kalau lapar. Kadang, jika nasi hanya nasi garam atau telat diberikan, istrinya melempar makanan. Sakit hati? Tentu. Tapi Abah hanya bisa bersabar.
Tak hanya istrinya, anak-anak Abah juga masih bergantung padanya. Mereka kadang ikut kelaparan jika dagangan Abah tak laku. Tapi Abah tak punya pilihan selain terus berjuang, meski tubuhnya semakin melemah.

Keinginan Abah sederhana: bisa membawa istrinya berobat, bisa memberi makan anak-anaknya, dan bisa tetap bertahan hidup. Tapi semua itu terasa semakin berat.
Entah harus sekeras apa lagi Abah berjuang. Tapi aku gak sanggup melihat Abah terus menahan lapar dan menahan air mata dalam diam.
Hari ini, kita bisa menjadi jawaban dari doa-doa Abah. Mari bersama-sama memberi Abah dan keluarganya kehidupan yang lebih layak. Caranya mudah:
Terima kasih, #OrangBaik
![]()
Belum ada Fundraiser